Recent Blog post
Taman Dayu
Bertempat di lokasi utama Pasuruan, The Taman Dayu Club menempatkan
segala sesuatu yang kota tawarkan hanya di luar pintu depan Anda.
Menawarkan berbagai fasilitas dan layanan, hotel menyediakan semua yang
Anda butuhkan untuk bermalam dengan nyaman. Dapat ditemukan di hotel
ini, yaitu layanan kamar, tempat parkir mobil, restoran, layanan
laundry/dry cleaning. Kamar tamu ini dirancang untuk memberikan
kenyamanan optimal dengan dekorasi dan fasilitas yang nyaman seperti AC,
shower, meja tulis, televisi LCD/layar plasma, TV satelit/kabel.
Suasana damai di hotel ini meluas ke fasilitas rekreasi yang meliputi
juga taman, kolam renang (luar ruangan). Suasana yang ramah dan
pelayanan yang terbaik adalah apa yang dapat Anda harapkan selama
tinggal di The Taman Dayu Club.
wisata taman dayu pasuruan
kelepon
Kue klepon adalah salah satu jenis kue
tradisional atau jajanan pasar yang terbuat dari tepung beras ketan yang
dibentuk seperti bola-bola kecil lalu diisi dengan parutan gula merah
atau gula jawa sisir dan diberi taburan kelapa parut. Kue basah ini
memiliki tekstur yang lembut dan kenyal di mulut.
Di Sumatera dan Malaysia kue klepon yang
memiliki bahan dasar tepung dan ubi ini sering disebut “onde-onde”. Hal
inilah yang membuat banyak orang salah dalam mengartikan kue onde-onde
dan kue kelepon. Jika dilihat dari bentuknya, kedua kue tersebut memang
memiliki bentuk yang mirip yaitu sama-sama berbentuk bulat kecil. Hanya
saja kue klepon memiliki ukuran yang lebih kecil dibandingkan dengan kue
onde-onde.
Pada umumnya kue klepon memiliki warna
hijau yang berasal dari pewarna alami daun pandan dan daun suji. Agar
lebih mudah dan praktis biasanya para pedagang menggunakan pewarna
makanan yang halal dengan kualitas bagus. Namun kini kue klepon tidak
melulu memakai warna hijau sebagai pewarna klasiknya. Karena saat ini
banyak bermunculan resep kue klepon dengan warna-warni yang lebih
menggoda. Seperti kue klepon ubi jalar, kue klepon ketan putih, klepon
pelangi wijen, klepon coklat tabur keju, klepon strawberry, kue klepon
bihun nenas, kue klepon labu kuning dan kue klepon tepung beras hitam.
Resep Kue Klepon Pandan Tanpa Kapur Sirih Isi Gula Merah Legit
Biasanya kue klepon ini di jual di pasar
tradisional bersama dengan jajanan pasar sederhana lainnya seperti
cenil, serabi, gethuk, pecel, bubur sum-sum, donat, kue awug-awug, kue
khu, golang-galing, bubur kacang hijau, bubur ketan hitam, semar mendem,
martabak kacang, onde-onde
dan masih banyak lagi. Kue klepon umumnya dijual dalam pincukan daun
pisang dengan harga yang cukup murah. Mulai dari Rp 2.000.- hingga Rp
5.000.- yang berisi beberapa buah kue klepon dari ukuran kecil hingga
klepon besar jumbo.
Walaupun terbilang murah, namun tak ada
salahnya bila sesekali membuat resep kue klepon sendiri di rumah.
Keluarga pasti suka karena rasanya yang enak dengan isian saus gula jawa
yang legit. Anda bisa menyajikannya sebagai camilan ketika berkumpul
bersama keluarga atau bisa digunakan sebagai kudapan di acara-acara
special anda. Mulai dari hidangan arisan, ulang tahun, isian snak box,
kumpul keluarga serta khajatan.
kelepon khas pasuruan
Bipang jangkar
Bipang terbuat dari beras yang
dipanaskan dengan suhu tinggi sampai mekar kemudian dicampur dengan
vanili dan gula yang telah dicairkan, lalu dicetak dan dipotong-potong.
Rasanya renyah dan manis.
Bipang Jangkar ini diproduksi sejak
tahun 1949. Pertama kali menggunakan kertas sebagai pembungkusnya dengan
rasa vanilla, kemudian berkembang menjadi bermacam rasa buah-buahan
yang dibungkus plastik sehingga bipang lebih tahan lama dan tidak
melempem. Bagi penyuka manis, bipang jangkar ini wajib dicoba.
Alamat Toko Bipang Jangkar : Jl. Lombok 37-41, Pasuruan 67132, Jawa timur, Indonesia.
Phone : 0343-421162 ; Fax 0343-422755; HP 081 7371496
Jam buka : Senin – Minggu 06.30 – 18.30
Phone : 0343-421162 ; Fax 0343-422755; HP 081 7371496
Jam buka : Senin – Minggu 06.30 – 18.30
Bipang juga banyak macam varian
Bipang jangkar khas pasuruan
Tari merak abyor
Tari Merak Abyor ini merupakan tari-tarian khas Pasuruan dan pernah
ditampilkan pada acara PON tahun 2000 di Sidoarjo, juga pernah meraih
sepuluh penyaji terbaik Festival Karya tari Merak pada Gelar Seni Budaya
dan Pariwisata Jawa Timur tahun 1998/1999.
Tari merak abyor ini merupakan kreasi Sanggar Tari Dharma Budaya Pasuruan.Sanggar Seni Dharma Budaya Kota Pasuruan merupakan suatu komunitas kesenian daerahkhususnya seni tari yang masih berkembang sampai saat ini di dilingkungan masyarakat kotaPasuruan yang dikenal sebagai masyarakat yang Islami (masyarakat santri).
Tari merak abyor budaya pasuruan
Kotekan Lesung
Seni Lesung adalah satu seni
tradisional kuno yang hidup dan berkembang di pedesaan dan banyak
dimainkan oleh para petani. Di tengah arus deras modernisasi ini mulai
pudar dimakan zaman, untuk mempertahankan eksistensi seni khas
masyarakat agraris ini, Pemerintah Kota Pasuruan setiap tahunnya selalu
mengagendakan perlombaan seni lesung antar kelurahan.
MENARI. Salah satu adegan yang menarik,
banyak orang untuk menyaksikannya seni kotekan lesung ini adalah para
pemukulnya yang juga melakukan gerak tari. Karena memang bukanlah penari
profesional, adegan tari yang mereka sajikan justru terlihat lucu dan
sering mengundang gelak tawa para penontonnya. Belum lagi tata rias
wajahnya yang ala kadarnya, juga memunculkan kesan lucu. Pertunjukan ini
bila dikelola dengan baik dan digabungkan dengan unsur entertainnya
dapat menjadi salah satu pertunjukan wisata yang cukup potensial.Lucu dan menghibur, begitulah kesan kuat yang terlihat di atas panggung saat para pegiat seni pukul lesung ini menampilkan atraksinya. Kelucuan dari para pegiat seni lesung ini nampak dari cara mereka berdandan yang terkesan ala kadarnya, sehingga bukannya terlihat tambah cantik justru pupuran bedak adem (bedak yang terbuat dari beras dan serai) yang tidak merata ‘mengubah’ wajah mereka seperti buah kesemek. Itulah yang terlihat pada sosok Maimunah (70).
Kelucuan yang menghibur juga terlihat dari gerak tangan dan badan mereka yang tidak ‘neko-neko’ mengikuti alunan kotekan lesu yang ditabuh bertalu-talu. Mungkin karena mereka bukan penari profesional, maka gerakan tari mereka itu justru mengundang tawa penonton yang tengah menyaksikan pertunjukan seni lesung yang digelar Dinas Pemuda, Olahraga dan Kebudayaan Kota Pasuruan. Hampir semua peserta lomba yang sebagian besar ibu-ibu lebih banyak yang memakai busana adat kebaya dan kain batik untuk menunjukkan orisionalitas kesenian kotekan lesung. Bahkan dari 34 kelompok peserta ada juga yang menggunakan alas kaki klompen (sandal kayu).
Kotekan lesung bisa disebut sebagai tradisi masyarakat agraris. Kotekan lesung tak dapat dipisahkan dengan kegiatan para petani menumbuk padi. Kotekan lesung pada awalnya merupakan kegiatan santai sekadar untuk bersenandung di saat-saat jeda menumbuk padi. Kreativitas tersebut terus berkembang bukan sekadar untuk mengusir kejenuhan dan keletihan, tapi terus berkembang menjadi simbol kegiatan sosial masyarakat agraris.
Sehingga alunan senandung kotekan lesung pada saat dulu juga bisa disebut sebagai irama musik prewedding di setiap keluarga petani di pedesaan. Karena alunan kotekan lesung biasanya akan terus berkumandang beberapa hari menjelang pesta hajatan pernikahan di sebuah keluarga di pedesaan. Di tengah masyarakat yang masih kental kerukunan sosialnya, setiap anggota masyarakat akan saling membantu menumbuk padi atau membuat aneka tepung secara sukarela. Nah di saat-saat jeda menumbuk padi atau membuat tepung tersebut, kotekan lesung secara spontan akan terdengar mengalun.
Namun seiring perkembangan zaman, lesung yang digunakan menumbuk padi tergeser fungsinya dengan mesin penggilingan padi baik yang statis maupun yang mobile atau yang biasa disebut “grandong”. Sehingga kumandang alunan kotekan lesung juga semakin hilang tertutup derunya mesin penggilingan padi. Lomba kotekan lesung yang secara rutin digelar saat memperingati hari jadi Kota Pasuruan ini, selalu meninggalkan kesan yang berbeda bagi setiap generasi. Bagi generasi tua, lomba kotekan lesung seolah membuka lembaran nostalgia, sementara bagi generasi muda lomba kotekan lesung merupakan kegiatan yang terasa aneh tapi diakuinya mengasyikkan.
Maimunah (70), salah seorang pemain kotekan lesung dari Kelurahan Tembokrejo Kecamatan Purworejo meski posturnya tubuhnya sudah terlihat renta tetap terlihat ceria selama memainkan alu memukullesung mengikuti irama. Wanita yang kini telah memasuki usia lanjut mengaku keterampilannya memainkan kotekan lesung dikarenakan saat masih mudanya dulu sering menjadi tukang tumbuk padi. Namun ia mengaku tidak pernah menyangka kalau keterampilannya tersebut yang kemudian mengantarkan dirinya naik ke panggung pertunjukan.
Sebaliknya Tyas (20), salah seoarang pemain kotekan lesung generasi muda dari Kelurahan Sebani, Kecamatan Gadingrejo mengaku belajar kotekan lesung tidak ada kaitannya dengan kegiatan menumbuk padi. Ia belajar kotekan lesung karena untuk persiapan lomba, bukan karena keterampilannnya menumbuk padi. Memang Tyas maupun generasi muda lainnya mengenal sebuah lesung bukan lagi sebagai alat tumbuk padi, tapi telah bergeser funsgi sebagai alat musik tradisional. Karena dengan maraknya mesin penggilingan padi, generasi muda kini nyaris tidak mengenallagi fungsi lesung. Jangankan mengenal fungsi lesung yang sesungguhnya, melihat proses penggilingan gabah menjadi beras pun telah menjadi sesuatu yang sulit ditemukan bagi banyak generasi muda di perkotaan.
Seni tradisional kotekan lesung di Kota Pasuruan boleh dikatakan tidak sepenuhnya mati. Ibarat pepatah hidup segan matipun tak mau. Di beberapa kelurahan, meski frekuensinya tidak terlalu sering masih ada anggota masyarakat yang berlatih memainkan kotekan lesung, terutama mendekati bulan Februari dimana secara rutin Pemerintah Kota Pasuruan menggelar lomba kotekan lesung antar kelurahan. Ketidakmampuan pihak kelurahan menggerakkan warganya untuk berlatih seni kotekan lesung ini tidak lain karena minimnya anggaran yang ada. Meskipun demikian, dari tahun ke tahun, kelurahan tidak pernah kesulitan melakukan alih generasi seniman kotekan lesung. []
kotekan lesung budaya pasuruan
Seni Hadrah Al Banjari

Seni Hadrah Al Banjari merupakan suatu seni yang bernuansa Islam. Disebut Al Banjari karena alat terbang serta aturan memukul terbangnya berasal dari Banjarmasin. Meskipun berasal dari luar daerah, kesenian ini sudah memasyarakat di Kota Pasuruan.
Keistimewaan Hadrah Al Banjari terletak pada suaranya yang bertalu-talu ditambah suara bas, jika dicermati mirip musik SAMBA DARI BRASIL. Hadrah Al Banjari ini sering dimainkan untuk memeriahkan acara sunatan, pernikahan dan pada peringatan hari-hari besar umat Islam seperti peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.
seni hadrah budaya pasuruan
Tari Terbang Bandung
Berdasarkan fenomena maupun ketertarikan peneliti terhadap objek, maka muncul rumusan masalah yaitu bagaimana eksistensi Tari Terbang Bandung di Kota Pasuruan.
Metode penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif dengan menggunakan metode kualitatif. Lokasi penelitian berada di Kota Pasuruan. Sumber yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari informan yang berkaitan dengan Tari Terbang Bandung dan data-data yang terkait, berupa foto, video atau buku-buku. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara, observasi dan kuesioner. Kemudian untuk validitas data dinggunakan teknik triangulasi sumber, dan teknik. Sedangkan analisis data menggunakan teknik reduksi.
Hasil penelitan ini memberikan penjelasan tentang asal usul kesenian Terbang Bandung yang berawal dari kesenian hadrah, pencak silat, dan kompetisi atau bandungan, yang kemudian menjadi bentuk teater tradisional Terbang Bandung dengan cerita “maru-maruan” atau poligami. Sampai pada tahun 1983 dicipatakanlah Tari Terbang Bandung oleh bapak Harjoto Tojib dengan maksud agar bisa dipelajari oleh generasi muda. Kemudian dalam rangka pelestarian Tari Terbang Bandung, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan mengadakan kegiatan penggalian dan pengembangan Tari Terbang Bandung dengan cara menganjurkan sekolah mulai SD sampai SMA untuk mempelajari Tari Terbang Bandung. Untuk menunjukkan kepada masyarakat, Dikbud mengadakan tari massal dengan mengikuti berbagai festival baik tingkat SD sampai SMA. Faktor-faktor penyebab pasang surut Tari Terbang Bandung disebabkan oleh dua faktor, yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal meliputi seniman, bentuk penyajian, dan fungsi. Sedangkan faktor eksternal meliputi masyarakat dan pemerintah.

